Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 April 2013

Melawan Provokasi


image

�Engaku tahu gunjingan orang seputar istri Rasulullah?� tanya Abu Ayyub al Anshari kepada istrinya.
�Ya, dan semua itu dusta besar,� sahut istrinya tegas.
�Engkau sendiri, mungkinkah melakukan hal seperti itu?� desak Abu Ayyub.
�Tak mungkin aku melakukannya, demi Allah.�
�Dan Aisyah, demi Allah jauh lebih baik dari engkau,� sahut Abu Ayyub.
Dialog itu turut mewarnai suasana tegang di Madinah. Hari-hari itu Rasulullah tengah menghadapi beban berat. Aisyah radhiyallahu �anha, istri tercinta beliau, diisukan berbuat serong dengan Shofwan bin Mu�athol.
Kisahnya bermula dari peristiwa perang Bani Musthaliq. Menjelang keberangkatan ke Bani Musthaliq, bulan Sya�ban tahun 5 hijriyah, seperti biasa Rasulullah SAW mengundi siapa istrinya yang diajak serta berperang. Hari itu, Aisyah dapat undian untuk menemani Rasulullah. Biasanya bila bepergian, Aisyah yang berbadan kurus itu naik ke atas sekedup (semacam tenda kecil) yang diletakkan di punggung unta.
Sepulang dari Ban Musthaliq, di sebuah tempat yang hampir dekat dengan Madinah, Rasulullah dan kaum muslimin menginap beberapa malam. Hingga suatu hari Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk meneruskan perjalanan. Saat itu, usai buang hajat, Aisyah kehilangan kalung permata Yaman. Saying, benda berharga itu tak ia temukan. Ia mencoba mencari lagi dan akhirnya ketemu. Namun, begitu kembali ke tempat singgah pasukan Islam, ia sudah tertinggal rombongan. Mereka yang mengangkat sekedup ke punggung unta tak tahu bahwa di dalamnya tak ada Aisyah.
Aisyah lantas menyelimuti dirinya dengan jilbabnya, kemudian berbaring. Ia berharap mereka akan kembali bila tahu dirinya tertinggal. Tak berapa lama, lewatlah Shofwan bin Mu�athol, menunggang unta. Ia tertinggal kafilah kaun muslimin karena suatu keperluan. Shofwan terkaget-kaget. Ia tahu bahwa itu Aisyah, sebab sebelum turun ayat yang mewajibkan pemakaian jilbab, Shofwan telah mengenali Aisyah.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji�un, istri Rasulullah di sini? Apa yang menyebabkan engkau tertinggal?� ucap Shofwan spontan.
Tak sepatah kata pun diucapkan Aisyah. Shofwan segera menundukkan untanya. Aisyah pun naik dan Shofwan menuntun unta itu. Doa orang itu tak bisa menyusul rombongan kaum muslimin, hingga tiba di Madinah.
Kehadiran keduanya menjadi makanan empuk gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Segera saja ia melempar isu, bahwa istri seorang Nabi telah berbuat serong. Berita dusta itu menjalar bak api melahap padang ilalang kering. Beberapa orang termakan isu. Hamnah bin Jahsy (saudara kandung Zainab binti Jahzy, istri Rasulullah), Misthah (pembantu Abu Bakar), dan Hassan bin Tsabit turut memperkeruh suasana.
Suasana makin panas. Aisyah sendiri jatuh sakit sepulang dari perjalanan itu. Tragisnya, Aisyah tak tahu menahu tentang apa yang terjadi di luar. Ia tak mengerti bahwa ada peristiwa besar yang menyangkut dirinya, yang berputar dari mulut satu ke mulut yang lain. Yang dirasakan Aisyah, hanya Rasulullah sedikit berubah dari biasanya. Kasih lembutnya terasa kering. Hanya itu.
Sampai suatu hari Rasulullah berbicara di hadapan kaum muslimin di masjid. Dari atas mimbar ia memuji Allah, lantas menyatakan sikapnya.
�Wahai sekalian manusia. Kenapa orang-orang itu menyakiti keluargaku? Mereka berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak benar. Demi Allah, aku tidak melihat keluargaku kecuali baik-baik selalu.�
Seorang sahabat Anshar, Usaid bin Hudhair dari suku Aus, menyela, �Wahai Rasulullah, bila orang-orang itu dari Aus, kami siap bereskan mereka. Dan bila mereka dari Khazraj, maka perintahkan kami untuk menyelesaikan urusan engkau. Demi Allah, mereka itu orang-orang yang layak dipenggal batang lehernya.�
Mendengar itu, Sa�ad bin Ubadah, yang berdarah Khazraj naik pitam. Ia segera menimpali.
�Demi Allah, kamu tak akan bicara seperti itu kecuali karena engkau tahu gembong masalah ini (Abdullah bin Ubay) dari Khazraj. Kalau saja ia dari kaummu, pasti bicaramu tak seperti itu.�
�Pendusta kamu ini, demi Allah. Kamu hanyalah munafik yang membela munafik,� balas Usaid.
Suasana kian panas. Beberapa orang nampak berlompatan. Keributan mulai muncul. Hampir saja orang-orang Aus dan Khazraj saling baku hantam. Rasulullah segera turun dari mimbar.
 ***
Hampir satu bulan masalah ini berjalan tanpa bisa dituntaskan kebenarannya. Rasulullah mencoba menggali kejujuran Aisyah. Ditemuilah istri tercintanya yang telah tinggal di rumah orang tuanya, Abu Bakar ash Shiddiq. Tak ada tegus sapa. Aisyah hanya menangis.
�Wahai Aisyah. Takutlah engkau kepada Allah. Bila engkau telah telah melangkah kepada keburukan, bertaubatlah. Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya.�
Air mata Aisyah makin deras. Tak ada kata yang mampu diucapkan. Ia berharap bapak-ibunya memberi jawaban. Lama ditunggu, keduanya tak juga buka suara.
�Tidakkah engkau berdua menjawab Rasulullah,� sahut Aisyah lemah sambil memandang kedua orang tuanya.
�Kami sendiri tak mengerti harus menjawab apa,� sahut Abu Bakar.
 ***
Ada banyak pelajaran berharga yang harus kita gali. Pertama, stabilitas sosial kaum muslimin akan selalu jadi incaran musuh-musuh Islam. Utamanya kalangan tokoh dan pemimpinnya. Segala cara akan dilakukan mereka untuk menghancurkan umat Islam. Bisa saja dengan memfitnah secara keji, tuduhan buta, sampa tindakan kekerasan sekali pun. Karenanya, umat Islam - apalagi dalam era seperti sekarang ini - tak boleh dengan mudah menelan opini dan isu yang berada di masyarakat. Sumber informasi harus jelas, dari segi autentitasnya maupun pembawanya (QS. Al Hujurat: 6). Kecerobohan sebagian sahabat yang termakan isu itu telah mengguncang kehidupan Rasul dan kuam muslimin.
Kedua, peran supremasi hokum dan ulama sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial umat Islam. Suku Aus dan Khazraj yang nyaris bentrok termakan provokasi kaum munafik bisa diatasi dengan kebenaran Aisyah yang ditetapkan melalui wahyu, dengan turunnya ayat 11 surat An Nuur. Karenanya, melalui tangan para ulama, seharunya al Quran dan sunah Rasul didudukkan fungsinya bagi penegakan hukum,khususnya pada saat kita banyak diterkam isu seperti hari-hari ini.
Ketiga, komunitas orang-orang yang mampu menahan diri seperti Abu Ayyub dan istrinya perlu ditumbuh-kembangkan. Di tengah masyarkat kita yang keropos, kita sangat perlu Usamah bin Zaid yang dengan jujur membela kebaikan keluarga Rasulullah. Kita butuh Burairah, pelayan Aisyah yang tahu betul keseharian Aisyah. Yang hanya bisa mengatakan, �Setahuku Aisyah tak lain seorang wanita yang baik. Aku bikin adonan roti, lalu aku minta ia menyimpannya. Rupanya ia tertidur di atas adonan itu dan datanglah kambing memakan adonan itu.�
Komunitas orang-orang yang bersih itu harus dibesarkan. Agar ada kekuatan yang bisa menetralisir isu dan opini kotor yang meracuni umat Islam. Sesudah itu, perlu dipikirkan wadah institusionalnya yang suaranya didengar dan wibawanya diakui. Hari ini tak akan kita jumpai Nabi baru, tidak juga wahyu baru. Tak mungkin kita menunggu surat-surat pembenaran dan pembelaan dari langit. Perlu kerja keras untuk menciptakan masyarakat muslim yang imannya kuat, berakhlak luhur dan anti-provokasi. Wallhu a�lam bishowab.

Kamis, 11 April 2013

Wanita Pertama Penghuni Surga Setelah Istri-Istri Nabi SAW, Dialah Mutiah


Ilustrasi
Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

"Assalaamu'alaikum ya ahlil bait." Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, "Wa'alaikassalaam ... siapakah diluar?" lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, "Saya Fatimah putri Muhammad SAW." Mutiah menjawab, "Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta."

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

"Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?"

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, "Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku."

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu' kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah... Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

"Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku."

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.

Wallahu a'lam bish shawab

Sumber: muslimahzone

7 Karakter Ayah Ideal



KABAR PKS - Sudahkan Anda Menjadi Ayah ?


Jika anda seorang lelaki, kemudian menikah dan memiliki anak, sejak saat itu anda adalah seorang ayah. Anda akan disebut Bapak, Ayah, Daddy, Papa, Papi, Abi, Abah �atau sebutan lain semacam itu�oleh anak anda. Status anda secara resmi dan formal adalah seorang suami dan sekaligus seorang ayah. Namun pertanyaannya adalah, apakah anda sudah �menjadi� ayah ?

�Menjadi� adalah sebuah proses, namun juga hasil. Proses menjadi ayah, dan hasil akhirnya : anda menjadi ayah. Saat berbicara proses, untuk menjadi ayah tentu saja memerlukan sejumlah langkah dan usaha nyata. Langkah yang dimaksud bukan hanya menikah dan memiliki anak, namun lebih penting lagi adalah proses untuk memenuhi karakteristik sebagai ayah. Banyak kalangan masyarakat kurang memiliki kesadaran untuk berusaha memiliki karakter sebagai ayah. Mereka menjadi ayah semata-mata karena proses biologis, bahwa kenyataannya mereka telah memiliki anak.

Menjadi ayah semestinya diawali dengan menyiapkan diri untuk memiliki karakter seorang ayah ideal, atau dalam istilah lain adalah �ayah juara�. Paling tidak ada tujuh karakteristik yang diperlukan untuk menjadi ayah ideal, yaitu kepemimpinan, keteladanan, kehangatan, optimisme, kecerdasan, kekuatan dan kelembutan.

Kepemimpinan adalah salah satu karakter yang menonjol pada diri seorang ayah. Ia harus memimpin anak-anaknya menuju kebaikan. Ia harus memimpin rumah tangganya menuju surga. Jangan bermain-main, menjadi ayah itu tidak boleh bersikap sembarangan. Karena menjadi ayah adalah sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Anda pimpin kemanakah anak-anak anda ? Anda bawa kemanakah bahtera rumah tangga anda ? Sebagai pemimpin, enda menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada ank-anak anda.

Di titik ini, ia dituntut memiliki karakter berikutnya yaitu keteladanan. Pemimpin tidak cukup hanya memerintah dan mengeluarkan arahan, namun ia harus memberikan contoh teladan dalam pemikiran, perasaan, perbuatan dan perkataan. Semua anak akan merasa senang apabila mereka dipimpin dengan penuh keteladanan oleh ayah mereka. Anda tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab keteladanan ini, jika menghendaki anak-anak anda menjadi pribadi yang mulia dan dipenuhi prestasi. Mungkin banyak pemimpin yang berpura-pura baik, namun di rumah tidak mungkin ada kepura-puraan, karena bertemu dan berinteraksi setiap hari. Maka berikan keteladanan untuk kebaikan anak-anak anda.

Seorang ayah dituntut untuk memiliki kehangatan dalam pergaulan keseharian. Di dalam rumah, ia adalah salah satu pusat �kehidupan�. Jika ayah tidak memiliki kehangatan dalam interaksi dan komunikasi dengan anak-anaknya, akan menyebabkan suasana yang dingin bahkan bisa menjadi beku. Ayah harus memiliki suasana jiwa yang hangat, yang menyebabkannya pandai bergaul dengan penuh keakraban dan persahabatan dengan anak-anaknya. Suasana inilah yang menyebabkan anak-anak akan merasa betah tinggal di rumah dan nyaman berada di dekat ayah mereka.

Seorang ayah juga dituntut memiliki optimisme dalam memandang dan mengarungi kehidupan. Sebagai nakhoda kapal keluarga, ia harus mengajak semua penumpang kapal untuk melawan ombak dan badai di tengah lautan kehidupan. Kendati ombak sangat besar dan badai datang silih berganti, seorang nakhoda harus tetap optimis akan bisa melalui semua rintangan tersebut dengan selamat dan sukses. Anak-anak akan memiliki semangat yang menyala apabila dipimpion oleh ayah yang penuh optimisme menghadapi tantangan kehidupan. Namun jika ayah menunjukkan pesimisme, pasti akan mengalir pula sifat ketakutan pada diri anak-anak. Mereka tidak percaya diri akan bisa mengalahkan ombak dan badai kehidupan.

Seorang ayah dituntut memiliki kecerdasan. Ayah yang cerdas, smart dan memiliki semangat menimba ilmu pengetahuan, akan membuat anak-anak bangga dan berbesar hati terhadap ayahnya. Banyak sekali peristiwa kehidupan yang harus disikapi dengan cerdas. Sejak anak-anak lahir, seorang ayah harus membimbing, mendidik, membina dan mengarahkan anak-anak agar menjadi salih dan salihah, menjadi anak-anak yang cerdas, menjadi anak-anak yang berkualitas. Mendidik memerlukan ukuran kecerdasan tertentu, maka hanya ayah cerdas yang bisa sukses membimbin dan mendidik anak-anaknya.

Seorang ayah juga harus memiliki kekuatan. Jadilah ayah yang kuat, bukan ayah yang lemah. Kuat bukan hanya dari segi fisik, namun juga kuat keimanan, kuat mental dan moral, kuat kemauan, kuat harapan dan cita-cita, kuat bekerja, kuat berkarya, kuat berproduksi dan kuat menafkahi. Ayah yang kuat akan membawa anak-anak menuju kepada kondisi yang kuat pula. Sebaliknya ayah yang lemah, akan cenderung menurunkan kelemahan pula kepada jiwa anak-anaknya. Anda harus menjadi ayah yang kuat, karena anak-anak sangat mengidolakan anda. Jangan menjadi ayah yang lemah, yang membuat anak-anak tidak bisa memiliki kebanggaan kepada anda.

Pada saat yang bersamaan, ayah juga harus memiliki kelembutan. Kuat itu tidak sama dengan kasar. Kuat adalah karakter positif yang harus dimiliki ayah untuk mendewasakan dan mematangkan anak-anaknya. Namun itu semua dilakukan penuh dengan sikap kelembutan, tidak dengan kekasaran. Ayah yang lembut akan menyebabkan anak-anak merasa bahagia berada di sampingnya. Di dalam kelembutan inilah tersimpan kekuatan untuk mempengaruhi. Dengan sikap yang lembut, seorang ayah akan sangat kuat membawa jiwa anak-anak untuk menuju kepada sifat-sifat mulia, tanpa perlu ada paksaan dan keterpaksaan. Namun justru membawa kesadaran hati.

Memenuhi berbagai karakter ayah ideal tersebut adalah sebuah proses tanpa henti. Karena ideal itu adalah cita-cita, sedangkan yang kita hadapi adalah realitas diri kita sendiri. Maka hasil dari proses menjadi ayah ini, ditentukan oleh seberapa serius, seberapa disiplin, seberapa bersemangat, seberapa bertanggung jawab diri kita dalam memenuhi karakter ayah ideal. Semakin serius kita mengusahakannya, semakin bagus pula hasilnya. Walau tidak ideal seratus persen, namun kita menjadi ayah ideal dalam batas-batas kemanusiaan dan kesanggupan yang kita miliki.

Cahyadi Takariawan

Sumber: islamedia

"Alangkah Miripnya Hari ini dengan Hari Kemarin"






Oleh Usman Jakfar

Dulu Walid ibn al-Mughirah (orang tua Khalid ibn al-Walid) pernah mengumpulkan orang Quraiys saat mendekati musim haji, ia berkata: sesungguhnya utusan Arab akan datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, maka kamu semua harus sepakat tentang �label� apa yang akan kita sematkan pada Muhammad SAW �agar orang tidak mau mendengar ucapannya-, sehingga kita tidak saling salah menyalahkan.

Mereka berkata: Kita katakan saja, Muhammad itu seorang �dukun�, Walid berkata: Dia itu bukan seorang �dukun�, kata-kata yang diucapkannya bukan seperti kata-kata seorang dukun. 

Mereka mengatakan: Kita katakan dia �orang gila�, Walid mengatakan: Dia itu bukan orang gila, sebab orang gila kita tahu kata-kata yang diucapkannya. 

Kalau begitu, kita katakan saja bahwa dia seorang �penyair�, Walid berkata: Sesungguhnya dia bukan seorang �penyair�, penyair kita tahu syair-syair yang diucapkannya. 

Mereka kemudian berkata: Kalau begitu �label� apa yang sesuai untuk kita sematkan? Sebab label apapun yang akan kita sematkan saya tahu bahwa itu tidak benar. 

Ya udah, �label� yang paling sesuai untuk disematkan adalah �tukang sihir� sebab dia bisa memisahkan antara seseorang dengan anaknya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan pasangannya, dan antara seseorang dengan keluarganya. 

Mereka kemudian berpisah, Allah SWT kemudian menurunkan beberapa ayat di dalam surah al-Muddaththir ayat 12 s/d 26 (Mausu`ah Difa` `an Rasulullah SAW, hal:64)

***

Sekarang cerita mirip seperti ini terulang kembali, walaupun pelakunya berbeda.

A: kira-kira kasus apa yang bisa kita gunakan untuk menjerat Ustaz LHI?

B: gini aja, kita bilang kasus suap daging impor?

A: kan tidak ada buktinya?

B: kita bilang aja penyalahgunaan kekuasaan, sebab LHI menggunakan pengaruhnya sebagai aparat pemerintah untuk mempengaruhi mentan.

A: kan tidak ada bukti rekamannya?

B: udah gini aja, kita kembangkan kasusnya menjadi TPPU.

A: kalau TPPU, uang yang mana yang dicuci LHI, kan uangnya dari AF belum sampai ke beliau?

B: udah lah, aku pun bingung juga, kalau gitu kita bebaskan aja beliau.

***


Sumber: pkspiyungan.org

Rabu, 10 April 2013

Merantau


Oleh: Muhammad Elvandi, Lc.


Semesta ini terus menggoda manusia dengan berbagai fenomena untuk dipikirkan dan dianalisa, namun manusia yang apatis, berjalan di atas rutinitas tanpa perenungan yang membekas.

Maka jika dalam Qur�an bertebaran ayat-ayat tentang semesta, �dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah� [an-Naba:14], �Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka?� [saba:9]. �Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur�[an-Nahl:14]. �Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir�aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman� [al-Qhashash:3], �dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah� [al-Fajr:9].

Ribuan ayat sejenis ini bukan sekedar penguat akidah, bahwa segala sesuatu ada penciptanya dan kisah-kisah terhahulu yang hilang sumbernya itu ada dalam Qur�an yang benar. Tapi ia mempunyai fungsi yang indepeden, yang berkaitan dengan misi manusia sebagai pengelola bumi. Qur�an tidak memberikan rumus-rumus ilmiah, tapi ia mengarahkan tema-tema umum agar manusia mengeksplorasinya. Karena memang ilmu-ilmu inilah bahan dasar manusia untuk mengelola bumi ini.

Qur�an tidak hanya memberikan pintu-pintu pengetahuan, tapi juga metodologinya. �Katakanlah: �Berjalanlah di muka bumi lalu analisalah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu�� [ar-R�m:42], �Katakanlah: �Berjalanlah di muka bumi lalu analisalah bagaimana Allah memulai penciptaan�� [al�-�Ankab�t:20]. Dua metode ini pernah menjadi tradisi dalam kehidupan umat Islam yaitu �siyar� dan �nadzr� [Ekspedisi dan Analisa].

Ekspedisi, adalah rahasia gunung karya ilmuan-ilmuan muslim. Ruang belajar mereka tidak tersekat kota, bahkan benua. Seperti Baqi Ibnu Makhlad, dari Andalusia, di daratan paling Barat Eropa, yang sekarang menjadi Spanyol. Riset ilmiahnya berbekal naluri seorang ekspeditor. Ia arungi bentangan sahara Afrika Utara menuju Baghdad selama 2 tahun untuk bergabung dalam kajian Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu kembali ke negerinya hingga menjadi guru besar. Tapi berkarir di Andalusia dan negeri-negeri Afrika utara tidak cukup untuk memenuhi dahaga pengetahuannya. Ibnu Makhlad belum puas, hingga ia tempuh ekspedisi keduanya menuju Syam, lalu Madinah, Mekkah dan Mesir, hingga ia berhasil mengumpulkan riwayat hadist dari 1.300 sahabat Rasulullah dalam Musnad Baqi ibn Makhlad, yang kata Ibnu Hazm �belum pernah ada musnad yang levelnya lebih tinggi dari ini�.

Ibnu Batutah, dari Tangiers Maroko, lebih dahsyat lagi, ekspedisi ilmiahnya melebihi 120 ribu kilometer di abad 14, seorang diri. Ia jelajahi Afrika, bagian selatan dan timur Eropa, timur tengah, asia tengah, selatan, Cina, hingga Aceh. Untuk meneliti berbagai tipe budaya, karakteristik umat manusia, fenomena alamnya, corak peradabannya, yang di hari ini menjadi sumber terpenting dalam ilmu Anthropologi, bahkan hingga divisualisasikan dalam film �Journey to Mecca�.

Jika al-Idrisi di abad 12 mampu meneliti dataran bumi ini hingga bisa menggambar peta dunia yang relatif mirip peta modern, generasi muda muslim abad 21 ini belum tentu mampu memahami peta yang mudah di akses di google earth, terlebih untuk mengeksplorasinya.

Metodologi yang Allah ajarkan ini memang sesuai dengan kaidah peradaban. Pengetahuan menunggu di datangi bukan ditunggui kedatangannya. Oleh karena itu ilmuan-ilmuan barat berlomba dalam ekpedisi dan eksplorasi. Lihatlah para researcher Orang Utan dan para pakarnya di Kalimantan sana! Apakah anak negeri kita sendiri? Atau amatilah liputan National Geographic, berapa jauh jarak rumah nyaman mereka dan lapangan penelitian para researcher itu?  kemudian adakah korelasi antara produktivitas ilmiah seorang doktor tanah air sebelum mendapat jabatan dosen yang nyaman dan setelahnya? Apakah ada keterputusan antara ekspeditor muslim seperti al-Idrisi dan sarjanawan muda muslim hari ini? Apa yang terputus? Padahal Qur�an yang dibaca mereka dan memberikan arah pengetahuan itu sama dengan yang dibaca hari ini.

Bukan ajaran Qur�an yang terputus, tapi naluri ekspedisi dan eksplorasi umat yang kian tergerus. Gaya hidup instan dan konsumtif semakin menggerogoti idealisme ini. Walaupun disetiap zaman selalu ada obsesi-obsesi luhur personal yang mengalahkan zaman, tapi umumnya naluri ekspedisi ini ditumbuhkan atau dimatikan oleh masyarakat.

Misalnya, mimpi terbesar para mahasiswa adalah segera selesai kuliah untuk segera melamar kerja. Maka bidang-bidang yang paling cepat menghasilkan finansial selalu paling padat. Karena kursi-kursi masyarakat belum diizinkan diduduki para ilmuan murni. Pencetakan generasi teknisi akan lebih diminati, yang akan merakit mobil, motor, ponsel, komputer impor untuk dijual di dalam negeri. Dibanding proyeksi satu tim pakar kimia, fisika, matematika, elektro, informatik yang dikirim belajar dalam satu proyek integral menciptakan produk-produk asli dalam negeri.

Saat naluri ekspedisi ilmiah hilang, umat Islam kehilangan tulang-tulang pengetahuan yang akan menegakkan kehidupannya, dan selalu mencari sandaran walau dari tongkat-tongkat keropos milik umat lain.  Tapi perubahan itu diciptakan, bukan dinantikan. Karena fenomena masyarakat yang sekarang disaksikan adalah hasil pemikiran zaman muda mereka yang dibiasakan. Sehingga wajah masyarakat 2-3 dekade lagi adalah refleksi gaya hidup pemuda hari ini.

Beberapa daerah Indonesia mempunyai budaya merantau, seperti Suku Minangkabau, Bugis-Makassar, Banjar, Bawean, Batak, dan Madura. Terlepas dari perbedaan filosofi perantauan dari masing-masing budaya tersebut, tapi irisannya ada dalam pencarian pengalaman [experience]. Jika budaya ini bisa diadopsi generasi muda, ia akan menjadi landasan awal yang bagus. Untuk kembali, setidaknya menumbuhkan naluri ekspedisi dan berani keluar dari zona nyaman untuk mencari �sesuatu�. Apalagi jika budaya ini dikonversi oleh pemerinah secara massif menjadi ekspedisi ilmiah, untuk memahami semesta ini, menganalisa hukum-hukumnya, untuk kemudian menciptakan revolusi pengetahuan.

Sumber: elvandi.com

Tak Ada Yang Berubah Dalam Diri Ummi Ahmed


ummu ahmed
LIHATLAH Naglaa Ali Mahmoud atau lebih dikenal dengan Ahmed Um, istri Dr Muhammad Morsi, presiden Mesir. Maka Anda akan selalu tersenyum. Ummi Ahmed pasti terlihat seperti wanita khas Mesir yang bisa Anda temui di jalan.
Ini memang bukan generalisasi. Perempuan Mesir datang dari berbagai latar belakang: sebagian mengenakan jilbab, sebagian memakai abaya tradisional, mengenakan jins dan t-shirt, dan sebagian lagi kerap mengenakan blus dan rok panjang sederhana.
Apa pun itu, satu hal yang pasti adalah bahwa, meskipun kemiripannya dengan banyak perempuan Mesir lainnya, Ummi Ahmed jelas bukan ibu Negara klasik yang selalu digadang-gadang; mewah dengan tata rambut yang baik, gaun bergaya, sepatu hak tinggi, tas bermerek dan senyum muluk-muluk yang tampak tidak ikhlas. Sebaliknya, ia muncul dengan sederhana, mengenakan jilbab Islam tradisional dan abaya. Dengan senyum, manis keibuan. Dan suka atau tidak, penampilan sederhana inilah yang  telah menyentuh hati jutaan orang, wanita dan pria, yang putus asa akan perubahan, perdamaian dan kebebasan di Mesir.
Hal yang menarik di sini adalah bagaimana beberapa orang menilai Ummi Ahmed, atau dalam konteks yang lebih luas, mereka mengharapkan seorang Ibu Negara. Dalam sebuah artikel berjudul �Ummi Ahmed, Ibu Negara Mesir Pertama� diterbitkan pada tanggal 28 Juni, dilaporkan bahwa orang Mesir membenci beberapa penampilan luarnya dan menganggap ia tidak layak untuk posisi itu.
Sebagian lagi mengatakan bahwa Ummi Ahmed tidak akan pernah berjabat tangan dengan laki-laki bukan muhrimnya saat bertemu para pemimpin dunia lainnya. Lainnya menertawakan dirinya karena mengenakan abaya tradisional dan jilbab yang sangat islami.
Ini ejekan belaka dan sama sekali tidak memiliki dasar. Ini juga sebuah gelandang budaya yang menginginkan Ibu Negara yang terlihat dan berperilaku dengan cara tertentu dari Barat. Bahkan, apa yang disebut sebagai �standar Ibu Negara� dan telah ditetapkan oleh barat, berasal dari ketidaktahuan dan ilusi. Mungkin, feminisme barat telah berhasil meyakinkan seluruh dunia bagaimana seorang wanita harus berperilaku dan dianggap sukses. Dan kebanyakan orang, tanpa bukti dan pengetahuan, begitu cepat setuju dan meniru.
Tapi Ummi Ahmed dalam penampilannya dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang namanya feminisme dalam Islam. Ia adalah seorang ibu rumah tangga. Ia adalah seorang perempuan yang tak mungkin keluar rumah tanpa izin suaminya. Seorang perempuan yang walaupun sudah berumur, tapi tetap mengenakan jilbab ketika berada di ruang publik. Soal dia adalah seorang Ibu Negara hanya bab ibadah kepada Allah dengan mendampingi suaminya tercinta. Ia adalah seorang ibu yang selalu tersenyum.

Sumber: RKI

Meraih Kemenangan di Mata Allah | Hilmi Aminuddin


Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah�

Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur�an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.

Ikhwan wa akhwat fillah�meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Na�udzubillah, kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqad khasira khusraanan mubiina. Rugi serugi-ruginya.

Saya pernah menjelaskan rumusan kemenangan rabbani yang sangat sederhana, seperti disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa definisi kemenangan itu adalah �Maa laazumul haqqu qulubana� artinya: �selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita.� Luzumul haq fi qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma�rakah siyasiyah, ma�rakah fikriyah, atau ma�rakah intikhabiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Provinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah.

Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-kemenangan pilkada atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi gubernur, bupati, walikota, bahkan presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu adalah hasil kecurangan, kezaliman dan ketamakan, maka maghlub �indallah, itu kalah menurut Allah.

Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kebenaran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, tercerabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah memasuki lembaga-lembaga Negara, yang jadi gubernur atau wagub, atau walikota, atau wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia. [ ]


Jumat, 05 April 2013

Jika Lelah Dalam Dakwah, Istirahatlah...

Ilustrasi

Mari kita beristigfar, Saudaraku.

Istigfar, apabila dakwah kita selama ini sering diselingi dengan keluh kesah. Istigfar, bila orientasi kerja kita masih keliru, sehingga akhirnya hanya lelah yang kita tumpu. Istigfar, jika ternyata kita termasuk aktivis dakwah yang beramal seadanya, mengada-ada, atau ada-ada saja.

Saudaraku, semoga hati kita bergetar karena-Nya. Semoga istigfar tadi dapat membuka hati kita, yang selama ini membeku, tertutup oleh kelelahan dan kelemahan. Lelah karena lupa pada-Nya. Lemah karena tidak menyertakan-Nya pada setiap amal kita.

Jika lelah, tidak ada salahnya kita beristirahat, Saudaraku. Meski sejenak, beristirahatlah. Karena dengan beristirahat, kita bisa tahu bagian mana yang lelah, bagian mana yang salah. Dengan beristirahat, kita dapat mengumpulkan tenaga untuk berlari kembali. Istirahatlah, Saudaraku. Sejenak saja. Sisakan waktu untuk tubuhmu tenang. Sementara biarkan otakmu me-review apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Dan tanyakan: Mengapa kita melakukan semua itu? Apa yang membuat kita bertahan hingga sejauh ini? Dan biarkan jiwamu menyelami makna dari setiap jengkal perjuangan yang telah kita lakukan.

Adakah yang terlupa, Saudaraku? Tentang nikmat yang lupa untuk kita syukuri. Tentang amal kecil yang belum kita jalani. Atau, adakah yang terlewat? Tentang dosa-dosa kecil yang kita remehkan. Tentang kelemahan yang tak kunjung dikuatkan. Sehingga pondasi dakwah kita keropos, tergerus oleh waktu dan nafsu. Sehingga amanah tak ubahnya tongkat estafet, meski berpindah namun tak berubah. Tak berkah. Sampai kapan kita tejebak dalam siklus stagnan ini, Saudaraku?

Mari kita beristirahat. Sejenak saja. Tak perlu waktu lama. Seperti yang dilakukan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Karena kebiasaannya ketika sebelum tidur mengistirahatkan egonya, mengistirahatkan nafsunya, mengistirahatkan kealpaan dan kelemahannya dalam sehari itu. Ia istirahatkan semuanya dalam tetes air mata. Penuh sesal atas dosa.

Dan bukankah itu pula yang menyebabkan sahabat yang lain juga dijamin masuk surga? Karena setiap hari ia terbiasa mengistirahatkan kesedihannya, mengistirahatkan kemarahannya, mengistirahatkan bayang dan prasangkanya terhadap orang lain. Sehingga dalam sehari, sebelum tidur, ia selalu memaafkan orang yang telah membuat hatinya terluka. Juga membersihkan hatinya terhadap iri dengki, apabila orang lain mendapat rezeki melebihi dirinya.

Saudaraku, tetaplah kuat. Jangan biarkan diri kita lemah dan terjerumus dalam kungkungan kesedihan. Namun jangan pula jadikan sebuah amanah sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan kita untuk tawazun di amanah-amanah lainnya.

Ingatlah, kekuatan dakwah bukan terletak pada ramainya seremonial atau besarnya sebuah acara. Bukan pula pada banyaknya agenda yang kita lakukan. Tapi, kekuatan dakwah terletak pada sebuah kesederhanaan, yang terpancar di setiap pribadi para pelaku dakwahnya, para aktivis dakwahnya. Karena menjadi sederhana itu kuat, Saudaraku.

Apabila yang lain telah menjauh dan terbentur dengan kedustaan dan kemalasan, tetaplah berada pada kesederhanaan. Karena kesedernahaan itu terwujud sebagai sebuah amal yang jujur, tidak banyak alasan. Kesederhanaan juga terpancar pada kesabaran, tanpa banyak keluhan. Dan kesederhanaan tentunya lahir dari sebuah kesadaran. Sadar untuk menjaga keikhlasan dalam niat. Sadar untuk tetap komitmen dalam dakwah. Sadar untuk terus istiqomah, meski yang lain sudah berubah.

deddy sussantho

Kamis, 04 April 2013

Cinta Fitrah, Cinta Fitnah

Oleh: Dyrga_biz

Assalaamualaikum wa rahmatuLLAAHI wa barakaatuhu,
Katakan manakah yang lebih mulia..
Cinta yang di ucapkan dengan perkataan karena nafsu dan takut kehilangan ataukah Cinta dalam diam yang di pendam dalam-dalam karena ingin saling menjaga kesucian??

Katakan manakah cinta yang lebih mulia..
Cinta yang diungkapkan dengan jalinan mesra tanpa ikatan halal..
Ataukah cinta dalam diam yang dititipkan pada yang menganugerahkan??

Mencintai dan dicintai adalah fitrah..
Namun memiliki seseorang yang di cintai tanpa menikah adalah musibah...

Mencintai menjadikan hati ingin memiliki sang pujaan hati.. Ingin mengikatnya agar tidak lari.. Ingin mendapatkannya agar bisa selalu bersama. Namun yang sering salah kaprah, kenapa diikat dengan tali haram pacaran?? Jika ada tali halal yang lebih berkah dengan menikah???


Belum mampu, belum siap, belum bisa, masih kecil, belum tercapai cita-cita?? Kenapa bermain cinta??? Jawabnya "Weh..cinta kan anugerah, mana bisa nolak kita!!"

Lho..Lhoo...Lhoo.. anugerah sih anugerah, tapi kalo diaplikasikan dengan asmara diluar nikah, itu namanya salah kaprah. Inget gak Hadist Rasulullah di bawah ini;

�Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya�.[HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa'iy (2246)]

Nah lho, gak ada celah sama sekali sepertinya untuk mengukir kisah kasih sebelum menikah. Kaidah dalam hadist di atas adalah: 

Yang telah MAMPU>>>menikahlah.
Nah yang BELUM MAMPU>>>puasalah!
Bukan terbalik bahwa, yang tidak mampu puasa>>>menikahlah, jika mampu puasa>>>puasalah!

Poinnya terletak pada mampu tidaknya menikah, bukan mampu tidaknya puasa. Di sinilah banyak orang yang menerapkan secara salah. Banyak kita lihat seseorang yang (menurut kita) mampu menikah, tapi menunda-nunda, entah apa yang dia cari. Mungkin dia belum pengen. Jadi masih kuat puasa. Padahal bukan masalah kuat puasa atau tidak, tapi (sekali lagi) sudah mampu menikah atau belum. Wallahu a�lam.

So.. Jangan mau kalah sama cinta, kalo cinta itu hendak membantumu semakin mendekat pada-NYa artinya hendak mempermudahmu menyempurnakan agama dengan menikah maka berbahagialah.. tapi kalo cinta itu membuat kamu berani melanggar apa yang Allah larang berhati-hatilah, kalau kamu memang takut akan Murka-Nya bertaubatlah, tapi jika kamu tidak perduli dan tetap menikmati, maka bersiaplah.. karena di akhirat nanti Allah akan menanyakan untuk apa saja masa mudamu kau habiskan?? berani berbuat harus berani bertanggung jawab bukan? berani pacaran kudu berani mempertanggung jawabkan dosanya bukan?? cinta yang belum halal itu ibarat api, jangan main api.. nanti kebakar sendiri kan ngeri? :(

Belum pernah ku lihat cinta yang lebih mulia dan indah selain Cinta karena Allah..
Mencintai dan menerima karena Allah..
Jika telah mampu ia segera menikah..
Jika belum mampu.. ia memilih mencintai dalam diam dan berpuasa sebagai perisai nafsunya agar kesucian cinta tetap terjaga.. agar makna cinta tetap berada pada fitrahnya...

Belum pernah ku temukan Pengorbanan cinta seharu cinta karena Allah..
Mencintai tak harus memiliki..
Melepaskan karena belum mampu menghalalkan..
Mencintai tak takut kehilangan karena pada hakikatnya semua hanya titipan yang kapanpun bisa di ambil kembali oleh Pemiliknya..

Belum pernah ku temui cinta seindah cinta karena Allah..
Saling bersabar atas kekurangan pasangannya..
Dan Berusaha selalu memenuhi hak dan kewajibannya..
Semua dilakukan semata-mata hanya untuk mengharap Rahmat dan Keridhaan-Nya.

Jangan katakan cintamu cinta karena Allah jika terjalin hubungan mesra sebelum akad suci itu tiba..
Jangan katakan cintamu cinta karena Allah jika kau tak segan melanggar apa yang di haramkan-Nya..

Cinta Karena Allah adalah cinta dengan jalan yang di ridhai-Nya dan dengan Tujuan mengharap Ridha-NYa pula. bukan dengan jalan yang menyimpang dari aturan-aturan yang di tetapkan-Nya. Bukan dengan jalan pacaran.
Mari Menikah Tanpa Pacaran. Aamiin.

Salam ukhuwah , semoga bermanfaat

[
pkssumut.or.id]